Artikel PPI UTM Berita Penelitian dan Kajian Strategis

30 Menit Bahas Perkembangan Tenaga Nuklir Indonesia Bersama Dr. Suparman

Oleh : Ahmad Zidan Firmansyah

Tanggal 4 April 2020 kemarin Persatuan Pelajar Indonesia Univesti Teknologi Malaysia (PPI UTM) diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung membahas bagaimana kemajuan tenaga nuklir dalam negeri dengan Kepala Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) Dr. Suparman. Di kesempatan tersebut beliau menjelaskan bagaimana kesiapan sumber daya alam maupun manusia kita untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir pertama di Indonesia, agar masyarakat umum paham bagaimana sejauh ini perkembangan tenaga nuklir kita. Berikut kami rangkum diskusi bersama Dr. Suparman.

Bagaimana perkembangan tenaga nuklir Indonesia setelah merdeka

Di tahun 1970 Indonesia yang kala itu baru saja mengalami revolusi perpindahan kekuasaan berencana melakukan persiapan untuk membangun PLTN pertama, tetapi karena industi nuklir itu sangat sensitif maka perkembangannya mengalami maju mundur. Dr. Suparman mengutip perkataan Ir. Sukarno bahwa “Kalau suatu negara bisa menguasai 2 teknologi yaitu teknologi dirgantara dan nuklir maka negara itu akan menjadi maju”. Beliau berkata demikian karena 2 teknologi tersebut membutuhkan kualitas dan standar yang tinggi dari segala bidang.

Setelah berselang 16 tahun Indonesia melakukan studi kelayakan di beberapa tempat, lalu dalam jangka tahun 1992 hingga 1996 ditetapkanlah Jepara sebagai lokasinya karena sudah layak dari segi teknologi. Tahun 1996 pemerintah sudah menyiapkan dokumen untuk melelang proyek pembangunan PLTN pertama kepada tender – tender, tetapi ada keraguan dari masyarakat setempat terkait keamanan dan kedispilinan tenaga kerja hingga di tahun 1998 terjadilah krisis ekonomi yang mengakibatkan proyek strategis ini menguap begitu saja.

50 tahun berselang kini Indonesia sudah membangun 3 reaktor nuklir untuk keperluan riset persiapan membangun PLTN, yaitu Triga 2000 di Bandung, Reaktor Kartini di Jogja, dan GA Siwabessy di Serpong. GA Siwabessy sudah mampu mengembangkan bahan bakar dan pengolahan limbah sesuai prosedur. Indonesia seharusnya sudah siap untuk menginjakkan kaki di industri nuklir, hanya pembangunan teknologi tidak hanya di pengaruhi teknis tetapi non teknis juga sedikit banyak mempengaruhi jalannya.

Pada akhirnya minyak bumi dan batu bara akan habis dalam beberapa tahun kedepan. Karena masyarakat sekarang sudah mulai memikirkan kelestarian lingkungannya , Industri Nuklir bisa amenjadi alternatif jalan keluarnya, bisa diperbarui dan lebih ramah lingkungan.

Bagaimana dengan bahan baku nuklir Indonesia

BATAN sebagai lembaga yang dipercayai pemerintah untuk mengembangkan industri nuklir sudah melakukan penelitian di beberapa daerah terkait bahan baku nuklir yaitu di daerah Kalbar, Mamuju dan beberapa daerah yang lainnya. Hasilnya, Indonesia memiliki 81,090 ton Uranium dan 140,000 ton Thorium.

Tetapi jumlah diatas tidaklah efisien dari segi biaya jika hanya untuk satu PLTN, lebih baik membeli bahan baku dari luar negeri. Butuh 8 PLTN agar mengolah bahan baku sendiri lebih efisien karena hanya 0.7% kandungan uranium yang bisa dikonversikan menjadi tenaga listrik, sedangkan butuh sekitar 2.5% – 4% kandungan untuk seukuran PLTN. Perlu diadakannya pengayaan oleh BATAN agar dapat mencapai angka tersebut, tetapi untuk pengayaan sendiri harus diawasi dengan ketat oleh dunia luar.

Meyakinkan masyarakat bahwa PLTN lebih aman

Perlu adanya edukasi jika PLTN itu tingkat keamanannya sangat tinggi karena ada SOP yang harus diikuti oleh tenaga kerja, ibarat pilot pesawat dengan sopir angkot bagaimana mereka melakukan prosedur mengendarai kata Dr. Suparman.

Masalah pengolahan limbah

Uranium jika masih dalam reactor tidak akan berbahaya, tetapi detelah digunakan akan lebih berbahaya karena uranium sendiri bersifat radioaktif artinya kandungan yang memancarkan radiasi yang dalam takaran tertentu dapat membahayakan kesehatan tubuh manusia. BATAN sendiri sudah melakukan riset tentang pengolahan limbah, nantinya limbah uranium akan di tanam di dalam wadah (case) sehingga radiasinya tidak akan mencemari lingkungan.

PLTN di ibukota baru

Seperti yang kita tahu bahwa Presidan Joko Widodo berniat memindahkan ibukota Indonesia dari Jakarta ke daerah Kalimantan Timur, beliau juga meminta agar nantinya di ibukota baru menggunakan tenaga yang ramah lingkungan. Berita ini bisa jadi pertanda dibangunnya PLTN di Kalimantan, sebelumnya BATAN sudah melakukan riset untuk membangun PLTN di Kalimantan, kita tunggu saja.

Selebihnya yang masih penasaran diskusi kami dengan Dr. Suparman bisa di liat di kanal Youtube PPI UTM, dan yang masih punya banyak pertanyaan tentang Perkembangan Tenaga Nuklir Nasional bisa buka FAQ BATAN di batan.go.id

LINK VIDEO WEBINAR BERSAMA DR. SUPARMAN :