Artikel PPI UTM Berita Penelitian dan Kajian Strategis

Apa Kabar Milenial

Yuk bicara milenial! kata yang tentunya tidak asing lagi di telinga kita, akhir- akhir ini sering diperbincangkan karena muncul bersamaan dengan kemajuan teknologi yang amat pesat , dan mungkin merupakan sebutan bagi sebagian besar pembaca artikel ini. Namun apa kabar mereka hari ini, mari kita bahas bersama.

Milenial adalah sebuah sebutan yang diberikan kepada generasi Y yang lahir pada awal 1981an hingga 2000an. Generasi ini mucul bersamaan dengan kemajuan teknologi yang dihasilkan oleh generasi sebelumnya. Di Indonesia nama milenial menjadi sorotan, karena disebut sebagai generasi yang akan menentukan nasib bangsa kedepan. Namun hari ini, apakah kita sadar akan peran kita kedepan, dan bagaimana keadaan generasi muda sekarang sebagai angkatan penerus ?

Mari kita kilas balik apa yang  telah terjadi pada milenial saat ini. Angka kemhamilan remaja meningkat sebanyak 500 orang setiap tahunya, pada tahun 2016 tercatat 4,6 juta anak usia 7-18 putus sekolah, bahkan pada 26 juni 2019 BNN merilis 24 persen  angka pengguna narkotika di Indonesia adalah remaja. Angka- angka ini adalah bukti bahwa kita harus mengkhawatirkan nasib bangsa kedepan, karena selain alasan kita sebagai generasi  penerus, jika generasi saat ini sudah memburuk makan yang berikutnya akan lebih buruk pula, dan masih banyak lagi hal-hal mengkhawatirkan yang berdampak dari situasi ini.

Hal-hal seperti ini bisa terjadi karena pola hidup remaja yang tidak terkontrol oleh orang tua dan pemerintah, dan masalah ini diperburuk oleh  kemajuan teknologi dan media sosial tanpa  adanya edukasi terlebih dahulu kepada pengguna. Bahkan seorang remaja bebas menyebarkan kata-kata dan gambar-gambar yang tidak pantas ke media sosial tanpa adanya filter saat mengunggah. Hal ini dapat memicu banyak dampak seperti kesenjangan sosial antara remaja maupun dewasa hingga  perdagangan anak dibawah  umur. Namun, di zaman 4.0 ini kemajuan teknologi tidak bisa dihindarkan dari remaja, untuk itu peran individu dan orang tua adalah yang paling utama dalam menangani masalah ini.

Di sisi lain, peran pendidikan juga sangat penting dalam meminimalisir kasus yang terjadi, seperti pemberian edukasi yang baik terhadap remaja tentang dampak buruk dari kemajuan teknologi yang dapat merusak karakter generasi muda , dan juga pemberian wawasan tentang pencegahan akulturasi budaya luar yang sangat liberal. Hal ini melibatkan peran pemerintah bersama orang tua dan tentunya remaja itu sendiri sebagai pendukung utama. Namun hal yang  utama tidak boleh dilupakan, yaitu pendekatan remaja kepada agama dan pancasila. Nilai-nilai ini lah yang harus ditanamkankan agar generasi penerus hidup pada jalannya. Karena agama akan membuat seseorang hidup lebih baik sebagai manusia. Dan pancasila akan membimbing seseorang hidup lebih baik sebagai warga negara.

Untuk itu, harus ada langkah konkrit yang dibuat untuk menangani masalah ini, seperti pembatasan pemakai gadget di bawah umur, peningkatan program ekstrakulikuler remaja, penyuluhan bimbingan orang tua , dan masih banyak lagi. Hal ini perlu dilakukan untuk meminimalisir masalah yang telah menimpa milenial. Kita harus mampu meningkatkan daya saing generasi muda untuk menghadapi tantangan global kedepan, Ilmu pengetahuan dan karakter lah yang menetukan keberhasilan ini. Apapun yang akan terjadi dimasa depan sudah dapat ditentukan dari sekarang, dan kesadaran sesama milenial juga harus ditingkatkan, karena generasi kita adalah tanggung jawab kita bersama.

 

Sumber:
https://www.suara.com/news/2019/06/26/132536/bnn-penggunaan-narkotika-di-kalangan-remaja-meningkat

https://lifestyle.okezone.com/read/2018/09/25/196/1955466/angka-kehamilan-remaja-di-indonesia-meningkat-500-kehamilan-setiap-tahun-ini-penyebabnya