Artikel PPI UTM Berita Penelitian dan Kajian Strategis

Bicara Merdeka

Bicara tentang kemerdekaan dalam konteks Indonesia memang tidak akan pernah ada habisnya, pelafalan proklamasi yang 74 tahun silam dilantangkan dari Jalan Pegangsaan Timur itu benar – benar menjadi bara semangat yang melekat pada Setiap pejuang bangsa bahkan di generasi-generasi setelahnya. Teks sederhana yang pada ujungnya ditandatangani perwakilan bangsa tersebut benar-benar mengubah mentalitas bangsa Indonesia yang tadinya mempunyai mental terjajah, kini bertransformasi menjadi bangsa yang bervisi dan senantiasa optimis menjawab segala tuntutan zaman.

Bicara merdeka, maka bicara arah. Bicara tentang mau dibawa ke arah mata angin mana perahu bangsa ini selanjutnya, apakah ke arah timur atau barat, kita masih belum tau pasti. Yang bisa kita siapkan adalah tentang apa-apa yang bisa menghadang di tengah lika liku perjalanan menuju salah satu arah mata angin tersebut, Bajak laut kah? Atau karang besar? Kita harus bersiap dengan segala kemungkinan dan mencoba untuk mengatasinya dengan seluruh daya upaya bersama.

Bicara merdeka, bicara pembangunan. Lebih dari tiang dan pasak-pasak bumi untuk jalan tol dan pencakar langit, Lalu lintas akal serta tinggi rasa akan nasionalisme lebih urgent untuk dibangun, ditandatangani prasastinya lalu dimanfaatkan untuk keadilan sosial di bagi seluruh rakyat Indonesia. Masih banyak daerah yang belum terkoneksi oleh jalan tol akal ini, pendidikan masih jauh dari kata adil mulai dari sapras hingga kualitas guru. Masih banyak anak bangsa yang mau lepas dari dekapan Ibu pertiwinya, masih banyak konflik, masih banyak kecemburuan diantara anak bangsa satu dengan yang lainnya. Hal-hal receh seperti ini sudah selayaknya dijadikan inti dan garis besar haluan pembangunan, jangan sampai kita pendek akal dan keliru jalan akan arah pembangunan bangsa. Karna berkaca dari semua bangsa yang besar, mereka melakukan pembangunan mulai dari pendidikannya, mulai dari manusianya. Saya kira ada benarnya jika kita mengatakan “Rakyat tidak makan semen dan batu” karna pada akhirnya pemabngunan fisikal ini lah yang selalunya didahulukan pemerintah dan penyelenggara negara untuk sekadar mendapatkan puji-pujian semata. Narasi dan Gagasan harus hadir di tiap nadi kebijakan pemerintah, agar tidak salah kaprah dalam penataan prioritas bangsa.

Bicara merdeka, bicara tentang panen. Layaknya petani yang mengumpulkan padi merunduk, seharusnya bangsa ini mulai memanen buah-buah kemerdekaan berupa sumber manusia yang terlah terisi pula, dengan visi dan mimpi berisi nilai-nilai luhur bangsa. Negara sudah selayaknya memanen manusia-manusia yang merunduk karna isi kepalanya dipenuhi pemikiran berat dan bermutu tinggi, untuk selanjutnya diberikan mandat melunasi janji-janji kemerdekaan yang belum sepenuhnya tuntas.  Disaat yang bersamaan pula negara seharusnya hadir membuka lahan-lahan baru, menggemburkan tanahnya lalu menaburkan benih-benih yang kemudian akan menjadi manusia dengan isi kepala selaras terhadap visi dan misi negara saat ini, ketika siap, generasi selanjutnya akan memanen hasilnya sekaligus mempersiapkan penaburan benih kembali.

Bicara medeka, bicara budaya. Pikirmu semenjak merdeka apa kita lepas dari penjajahan budaya kiri dan kanan? Saya rasa naif untuk mengatakan kita telah merdeka seutuhnya  jika dengan kemerdekaan itu budaya serta identiitas kebangsaan kita justru perlahan luntur dan meluruh terganti dengan budaya kebaratan maupun ketimuran yang sedang banyak digandrungi para pemuda. Padahal pemuda khususnya mahasiswa lah yang mempunyai hakikat untuk melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa, bergantung kepada merekalah masa depan bangsa ini kita titipkan, dari mulut mereka lah mimpi-mimpi baru bangsa ini dilahirkan.

Bicara merdeka, bicara tentang usaha saya, kamu, dan kita dalam merayakan kemerdekaan. Bukan tentang perlombaan atau upacara normatif semata, amanah kita sebagai pemuda amatlah terlampau berat jika dipikul sendiri. Masalahnya sekarang adalah, beranikah kita bersatu untuk Indonesia yang baru?

Ditulis oleh bantal guling,

Johor Bahru