Artikel PPI UTM Berita Penelitian dan Kajian Strategis

Energi Terhadap Perekonomian

Oleh : Fadhillah Rahmat Khairani

 

Ekonomi neoklasik berpendapat bahwa peningkatan konsumsi energi mencerminkan peningkatan perekonomian (Kraft & Kraft, 1978).

Revolusi industri 1.0 pada abad 18 ditandai dengan ditemukan nya mesin uap, revolusi industri 1.0 mengubah yang awalnya pekerjaan yang bergantung dengan tenaga manusia dan hewan digantikan oleh mesin uap, pekerjaan-pekerjaan berat mulai digantikan oleh mesin serta pengiriman barang menggunakan hewan yang memakan waktu lama digantikan kereta api yang mampu mengirim barang dengan jumlah lebih banyak dan lebih cepat. Berlanjut ke revolusi industri 2.0 yang dikenal sebagai revolusi teknologi ditandai pengembangan energi dan peralatan listrik, perlatan menggunakan tenaga listrik dinilai lebih efisien dibanding menggunakan batu bara atau bahan bakar sejenisnya. Dua dari empat revolusi industri yang terjadi hingga tulisan ini dibuat menunjukan perkembangan dalam bidang energi yang berdampak pada proses produksi dan distribusi produk menjadi lebih efisien dibandingkan sebelumnya, tentunya revolusi industri juga membuat biaya produksi lebih murah dan dapat memproduksi secara massal.

Perekonomian sekarang ini sangat bergantung terhadap ketersediaan energi, jika industri dalam sebuah negara meningkat pesat tapi tidak diikuti ketersediaan energi maka pertumbuhannya akan terhambat. Disamping itu, efisiensi energi juga penting bagaimana kita memilih energi yang murah dan mudah untuk didistribusikan, harga menjadi faktor yang sangat penting dapat dicerminkan oleh kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) yang diikuti oleh kenaikan harga-harga lainya karena BBM berpengaruh besar pada biaya pengiriman produk yang akan meningkatkan harga barang dan bukan tidak mungkin akan menurunkan daya beli masyarakat karena harga semakin tinggi.

Ketersediaan energi harus menjadi fokus kita, karena jika tidak tersedianya energi banyak industri yang akan berhenti beroperasi. Kasus blackout 2019 tentu memiliki dampak besar terhadap industri di Indonesia, penulis berkesempatan untuk mewawancarai Ginanjar M. Sc, yang mengambil program Advanced Process Integration and Design saat menempuh S2 di Manchester University dan sekarang menjadi auditor energi di PT Pupuk Kujang (salah satu anak BUMN di Indonesia). Giananjar mengatakan kasus blackout 2019 berdampak pada kurangnya energi untuk menjalankan pabrik dan membuat pabrik tidak dapat memproduksi selama beberapa hari walaupun kekurangan energi hanya beberapa waktu, karena jika pabrik sudah shutdown maka perlu melakukan langkah-langkah untuk menyalakan pabrik kembali ditambah pabrik tetap memerlukan konsumsi energi tetapi tidak ada produk yang dihasilkan. Peristiwa blackout 2019 menyebabkan shutdown 1 dari dua pabrik urea di PT Pupuk Kujang karena pabrik tersebut memiliki ketergantungan listrik ke PLN sebesar 5 MW (MW = megawatt) yang menyebabkan kerugian 1800 ton urea dan 34000 MMBTU ( MM = 1 Juta, BTU = British Thermal Unit (satuan energi).

 

Dampak terhadap lingkungan juga tidak boleh disampingkan walaupun tidak berdampak langsung terhadap perekonomian, sebagai contoh apabila industri-industri tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan yang membuat air, tanah, dan udara tercemar maka akan berdampak terhadap kehidupan disekitarnya, penulis ambil contoh dalam masalah kesehatan jika kesehatan masyarakat terganggu tentunya semakin sedikit masyarakat yang dapat produktif untuk bekerja dan masalah ini berhubungan dengan sumber daya manusia yang mana faktor ini adalah faktor yang penting untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Konsumen juga berpengaruh terhadap lingkungan sekitar seperti kendaraan bermotor yang biasa digunakan belum sepenuhnya ramah lingkungan dan dalam penggunaan listrik walaupun tidak menghasilkan polusi tapi menurut berita yang dirilis CNBC Indonesia tanggal 23 September 2019 produksi  listrik di Indonesia sebesar 61% dari total produk listrik nasional dihasilkan dari PLTU (Pembangkit listrik tenaga uap) berbahan bakar batu bara yang mana PLTU berbahan bakar batu bara belum sepenuhnya ramah lingkungan.

 

Dari sisi ekonomi dan geografis ASEAN menjadi kawasan dengan tingkat pertumbuhan paling pesat,  serta tingkat pertumbuhan konsumsi energi yang mencapai 4% per tahun dibandingkan dengan dunia hanya 1,8% (International Energy Agency (IEA), 2010). Indonesia tentunya berpotensi untuk pertumbuhan ekonomi kedepannya, namun kestabilan harga bahan bakar juga perlu diperhatikan karena berdampak pada peningkatan harga barang-barang yang bukan tidak  mungkin akan menurunkan minat beli masyarakat. Ketersediaan energi, menjaga instrumen pengolahan dan pendistribusian energi tetap terjaga juga faktor yang penting karena belajar dari blackout 2019 banyak perusahaan yang dirugikan karena kejadian tersebut mengakibatkan gagal produksi Konsumen termasuk masyarakat juga memiliki peran penting untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan juga bijak menggunakan energi yang ada karena energi memiliki jumlah yang terbatas, sangat penting baik pemerintah, penyedia energi dan konsumen untuk menjaga ketersediaan energi karena kehidupan abad 21 memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap energi. Pemilihan sumber energi juga perlu diperhatikan karena mempengaruhi zat buangannya yang sangat berdampak terhadap lingkungan, konsumen juga perlu bijak dalam penggunaan energi karena perlu diakui energi yang sering kita gunakan sejauh ini belum sepenuhnya ramah terhadap lingkungan.

 

 

Sumber ;

 

  • Rezki, Jahen. “Konsumsi Energi dan Pembangunan Ekonomi di Asia Tenggara”. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia 12. 1 (2011).