Artikel PPI UTM Berita Penelitian dan Kajian Strategis

Gaya Hidup Pendidikan Islam di Brunei

Oleh : Reza Agraha Maha

 

Brunei Darussalam merupakan negara kerajaan dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Negara tersebut terletak di bagian utara Pulau Kalimantan (Borneo) dan berbatasan dengan Malaysia. Berdasarkan data statistik, penduduk Brunei Darussalam hanya berjumlah 370 ribu orang. Sekitar 67 persen dari total populasinya beragama Islam, Buddha 13 persen, Kristen 10 persen, dan kepercayaan lainnya sekitar 10 persen.

Brunei Darussalam sebagai sebuah negara sudah barang tentu akan memperhatikan sumber daya manusianya hal ini selalu ditekankan oleh para menteri kabinet dalam setiap pidatonya tentang tantangan mengelola perubahan dalam konteks pembangunan nasional. Oleh karena itu pemerintah Brunei meningkatkan pengelolaan sumber daya manusia yang menurutnya terletak pada pelatihan generasi muda. Bahasa Melayu dan Inggris memiliki penekanan yang sama pada pendidikan dasar dan pelajaran diajarkan dalam bahasa Inggris. Penekanan pada bahasa Inggris ini diimbangi dengan pengajaran MIB (Melayu Islam Beraja atau Kerajaan Islam Melayu), seperti ajaran agama Islam, yang merupakan program pengajaran moral inti di sekolah.

Gambar 1. Ikon Negara Brunei Darussalam

 

Pemerintah menetapkan tiga bidang utama dalam pendidikan, yaitu Sistem dwibahasa di semua sekolah, Konsep Melayu Islam Beraja (MIB) dalam kurikulum sekolah, peningkatan serta perkembangan sumber daya manusia termasuk pendidikan vokasional (kejuruan) dan Teknik.

Islam telah masuk di Brunei Darussalam diperkirakan pada abad ke 13 Masehi, yaitu ketika Sultan Muhammad Shah pada tahun 1368 telah memeluk islam. Akan tetapi jauh sebelum itu, sebenarnya terdapat bukti bahwa islam telah berada di Brunei Darussalam ini. Misalnya dengan diketemukannya batu nisan seorang China yang beragama Islam dengan catatan tahun 1264 Masehi, Namun pada masa ini, Islam belum cukup berkembang secara meluas. Barulah ketika Awang Khalak Betatar memeluk Islam dengan gelar Sultan Muhammad Shah, islam mulai berkembang secara luas.

Dalam bidang pendidikan, Pemerintah Brunei Darussalam lebih mengutamakan pada penciptaan SDM yang berahlak, beragama, dan menguasai teknologi. Sistem pendidikan umum di Brunei Darussalam memiliki banyak kesamaan dengan negara-negara “commonwealth” seperti Inggris, Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Salah satu target yang akan dicapai di bidang Pendidikan adalah meningkatkan angka lulusan Pendidikan sekolah tinggi di Brunei Darussalam. Upaya yang telah dilakukan antara lain sejak tahun 2003, Universitas Brunei Darussalam telah membuka peluang bagi keterlibatan sektor swasta di bidang penelitian. Peluang keterlibatan pihak swasta dimaksudkan agar Pemerintah dan pihak swasta dapat bekerjasama dalam pembangunan nasional di bidang Pendidikan.

Gambar 2. Para Wisudawan/ti di Universitas Brunei Darussalam

Konsep Pendidikan islam merupakan seluruh totalitas dalam konteks Islam inheren dengan konotasi istilah “tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib” yang harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga istilah ini mengandung makna yang mendalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain. Istilah-istilah itu pula sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam: informal, formal dan non-formal.

 

Gambar 3. Sistem Pendidikan Negara Brunei Darussalam

Sistem perjenjangan pendidikan yang dikembangkan yaitu dengan pola A7-3-2-2″ yang melambangkan lamanya masa studi untuk masing-masing tingkatan pendidikan seperti: 7 tahun tingkat dasar, 3 tahun tingkat menengah pertama, 2 tahun tingkat menengah atas dan 2 tahun pra universitas.

Pendidikan Islam bagi orang Brunei ditujukan kepada semua golongan masyarakat. Pendidikan tidak boleh hanya berpusat di Istana-Istana atau di kediaman golongan elite saja, tetapi kini juga bertempat di masjid-masjid, atau surau-surau, balai-balai ibadat, pondok-pondok pengajaian agama Islam tidak terkecuali juga di rumah-rumah guru-guru agama.

Sistem pendidikan Islam di Brunei Darussalam bisa menjadi panutan bagi Sistem Pendidikan di Indonesia terutama melalui lembaga pendidikan yang memiliki ciri Islam yang dikelola dan dikembangkan di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia. Melalui dasar pendidikan dwibahasa yaitu bagi pelajar harus mampu menguasai kedua bahasa yaitu bahasa Melayu dan bahasa Inggris. Manakala bahasa Inggris pula digunakan bagi mengajar mata pelajaran seperti Sains, Matematik, Geografi, Sejarah, dan Bahasa Inggris itu sendiri. Diharapkan sistem pendidikan islam di Indonesia seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah bisa mengikutinya juga supaya bisa mengikuti perkembangan zaman yang sudah terbilang maju.