Artikel PPI UTM Penelitian dan Kajian Strategis

Idenesia Untuk Indonesia

Tema inovasi selalu menarik untuk diangkat dan diolah menjadi bahasan berbagai isu, mulai dari akar bahasannya hingga sekadar ranting-ranting bahasannya. Indonesia ini selalunya merasa yakin dan menggunggulkan dirinya sendiri dikala kita bercakap perihal inovasi, kita mesti akui memang Indonesia masih jauh lebih baik dari negara-negara yang dilanda konflik seperti kebanyakan negara di Benua Afrika. Namun, Jika kita bandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, sepertinya Indonesia harus sedikit berintrospeksi diri.

Berdasarkan kajian Global Innovation Index (GII) 2018Energizing the World with Innovation*–yang dirilis oleh the World Intellectual Property Organization (WIPO)  bersama dengan Cornell University dan INSEAD Business School. Pada kajiannya yang ke-13 ini GII membandingkan dan mengurutkan 126 negara yang merepresentasikan 90.8% populasi dunia dan 96.3% GDP dunia. Indonesia menempati posisi ke-85 atau naik 2 peringkat dari capaian tahun lalu (87). Faktor-faktor yang menjadi Indikatornya adalah Kedaulatan institusi, Sumber Manusia dan Penelitian, Infrastruktur, Kecanggihan Pasar, Kecanggihan Bisnis, Keilmuan dan Produk Teknologi serta Produk Kreatif.

Secara lebih detail Indonesia unggul dalam beberapa aspek seperti Skala pasar domestik dan tingkat ekspor produk kreatif dalam indikator kecanggihan pasar serta produk kreatif. Namun, bagaimanapun juga, kita masih punya banyak aspek yang harus dibenahi dengan lebih serius dan lebih professional.

Contoh dari aspek yang seharusnya digarap dengan lebih professional dan dapat langsung pemerintah serta legislator benahi adalah poin poin di indikator institusi seperti melakukan perbaikan di bidang lingkup regulasi, mencangkup kualitas regulasi, peraturan perundang-undangan serta tunjangan pemecatan dan gaji birokrat secara umum. Meskipun ini merupakan tanggung jawab dari pememrintah, kita sebagai masyarakat juga harus memposisikan diri sebagai pengamat dan mengkritis yang baik untuk pemerintah dengan cara selalau mengawal dan memberi perhatian kepada kebijakan-kebijakan yang dibuat.

Aspek lainnya yang harus kita berikan atensi adalah sumber daya manusia dan penelitian. Dalam poin pendidikan, Indonesia menempati posisi ke-101 dari 126 negara. Perhatian terbesar para penilai terhadap poin pendidikan adalah bagian dimana pemerintah tidak memberikan beasiswa dan bantuan yang cukup kepada siswa dan pelajarnya. Edukasi tersier atau pendidikan tinggi serta penelitian dan pengembangan juga sepertinya masih mendapatkan atensi yang kurang dari pemerintah. Salah satu indikatornya adalah kurangnya peminat bagi pelajar internasional untuk menjalani program pertukaran ke Indonesia. Catatan lainnya kurangnya alokasi dana dari pemerintah untuk kegiatan dan program riset dan pengembangan nasional.

Meskipun kita tinggal di negara yang jauh dari kata sempurna, ini adalah tugas kita sebagai penerus dan penerima warisan dari berkah dan nestapa bangsa. Salah satu yang bisa kita sama-sama lakukan untuk pengembangan bangsa adalah melakukan Inovasi dan mengembangkan potensi kreativitas bangsa. Sinergi dari pemerintah dan masyarakat harus senantiasa dibina dan dikembangkan lagi, banyak regulasi masih harus di perbaiki, serta masih banyak masalah bangsa harus dicarikan solusi. (ahmad)

Departemen Penelitian dan Kajian Strategis PPI UTM 2018/2019 Kabinet Dinamika Bakti

*Terlampir

Untuk mengunduh silakan klik tautan dibawah ini :
Global Innovation Index (GII) 2018-Energizing the World with Innovation