Artikel PPI UTM Berita Penelitian dan Kajian Strategis

Mahasiswa Teknik dalam Pusaran Arus Percepatan Pembangunan Infrastruktur Nasional

Oleh : Rayhan Nasser

74 Tahun Indonesia merdeka, banyak yang sudah kita capai sebagai sebuah bangsa khususnya dalam pembangunan infrastruktur dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan segala lika-liku maupun suka-duka dalam mewujudkannya. Bangsa kita bukanlah bangsa yang baru lahir kemarin. seiring perjalanan panjang negeri ini, kita telah berhasil membawa perubahan yang cukup berarti melalui pembangunan infrastruktur. Melalui beberapa tangan para ahli dan pakar yang berkompeten di bidangnya, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu yang disegani oleh dunia.

 

Proklamator kemerdekaan kita, Ir Soekarno. seorang lulusan Teknik Sipil Sekolah Tinggi Teknik Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung). Selama masa pemerintahannya, banyak proyek strategis nasional yang “dikomandoi” olehnya, seperti pembangunan Monumen Nasional dan Masjid Istiqlal.  Ada juga Tjokorda Raka Sukawati , seorang insinyur sipil  yang menemukan konstruksi Sosrobahu, memudahkan pembangunan jalan layang tanpa mengganggu arus lalu lintas pada saat pembangunannya. Penemuannya diakui dunia dan digunakan sampai saat ini

Panjangnya sejarah panjang pembangunan negeri ini bukan menjadi sebuah alasan untuk cepat berpuas hati dengan apa yang kita capai, justru itu hanyalah awal. Sebuah permulaan untuk lebih menggiatkan pembangunan infrastruktur untuk mencapai Indonesia yang adil dan makmur, dan akan terus berlanjut selagi negara ini masih berdiri dan berdaulat. Hal ini dibuktikan dengan Visi Indonesia Maju yang dicetuskan oleh Presiden RI, Joko Widodo memberikan fokus utamanya kepada beberapa hal, termasuk percepatan pembangunan Infrastruktur, serta penyiapan sumber daya manusia yang mendukung untuk mewujudkannya.

Visi Indonesia Maju merupakan sebuah “jalan” yang Panjang dan terencana menuju Indonesia yang unggul dalam segala bidang. Terutama dalam segi Infrastruktur yang mumpuni demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dibarengi dengan sumber daya manusia yang berkompeten. Sebagai sebuah rencana panjang, pewujudan pembangunan infrastruktur tentu bukan generasi tua lagi yang akan menjadi role player dalam menjalankannya, melainkan generasi muda terutama para mahasiswa teknik di masa yang datang.

Lalu apa yang dapat kita harapkan?

Iya, Merekalah yang kelak akan menjadi penggerak utama dalam segala bentuk pembangunan infrastruktur ke depannya. Dengan berbagai disiplin ilmu yang telah mereka peroleh selama berada di universitas, merekalah yang diharapkan dapat memberi pandangan yang visioner tentang arah tujuan pembangunan negeri kita, sekaligus menjadi fieldworker, turun langsung ke lapangan melaksanakan sekaligus mengawasi jalannya proses terbangunnya infrastruktur yang diharapkan tidak hanya memperhatikan kuantitas, tapi juga kualitas pembangunan sehingga hasilnya berdampak luas bagi masyarakat dan diharapkan secara langsung berdampak pada tingkat kesejahteraan rakyat negara kita di masa yang akan datang.

Namun implementasi yang terjadi di lapangan kadang tak seindah narasi pemerintah. Hal ini tercermin dari tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan universitas dengan rentang pendidikan S1 hingga S3 yang mencapai 737.000 orang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), per Agustus 2019, jumlah pengangguran lulusan universitas mencapai 5,67 persen dari total angkatan kerja sekitar 13 juta orang. Sebenarnya perlu diakui, banyak lapangan kerja yang tercipta seiring dengan menjamurnya proyek infrastruktur yang sedang bejalan. Tetapi , hal itu seakan menjadi “karpet merah” bagi para pekerja asing untuk mengais rezeki di negeri kita. Jauh berbanding terbalik dengan susahnya rakyat kita untuk mendapatkan pekerjaan untuk menafkahi diri dan keluarga mereka, di tanah kelahiran mereka sendiri. Alasan kurangnya kompetensi pada pekerja lokal selalu menjadi alasan klasik seakan-akan kita “terjajah” kembali oleh pekerja asing.  Atau apakah alasan “perjanjian investasi” menjadikan “lampu hijau” untuk mendatangkan para pekerja asing menjadi “tenaga ahli” dalam berbagi proyek infrastruktur.

Walaupun begitu, masalah ini bukanlah hal yang baru di Indonesia. Sebuah negara tidak akan pernah mencapai angka minimum pengangguran jika pemerintah beserta masyarakat tidak serius menghadapi dan menyelesaikannya. Sebagai negara yang akan mengalami “Bonus Demografi”, harusnya bukan hanya sekedar narasi saja. Wajib ada langkah dan rencana Panjang untuk menghadapinya, agar tidak menjadi “bencana besar” di masa yang akan datang.

Mari kita rujuk kembali visi Indonesia Maju, penyiapan sumber daya manusia merupakan salah satu fokus utama selain infrastruktur. Yang kita perlukan sekarang adalah “eksekusi” dari visi tersebut. Jangan sampai menjadi angan belaka.

Apa salahnya jika pemerintah mulai dari sekarang melakukan “investasi” jangka Panjang dalam segi pendidikan?

Lalu apa kaitannya dengan pembangunan infrastruktur?

Mari kita rujuk kembali visi Indonesia Maju, penyiapan sumber daya manusia merupakan salah satu fokus utama selain infrastruktur. Yang kita perlukan sekarang adalah “eksekusi” dari visi tersebut. Jangan sampai menjadi angan belaka.

Pemerintah bisa berinvestasi dengan para pemuda asset bangsa melalui program beasiswa. Berikanlah para pemuda akses pendidikan terbaik yang terjangkau dengan bantuan pemerintah. Bukan hanya orangnya, namun institusi terkait seperti universitas dan lembaga pelatihan harus diberi perhatian lebih sebagai sarana mencetak “tenaga ahli” yang berkompeten dan siap berkompetisi serta berdaya saing.  Sehingga kedepannya, para mahasiswa tidak perlu lagi menghadapi pasar kerja dalam bidang infrastruktur selagi memiliki kompetensi yang mumpuni dan diharapkan dapat meminimalisir pengimporan tenaga kerja asing dengan dalih “tenaga ahli” lokal yang tidak sesuai kompetensi yang dibutuhkan

Terakhir, bukan hanya pemerintah saja yang harus bertindak, tetapi para pemuda khususnya mahasiswa Teknik, berusahalah sebaik mungkin untuk menuntut ilmu sesuai  disiplinmya masing-masing . Bukan hanya sibuk berorasi menyalahkan pemerintah terus menerus, tanpa mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk menghadapi tantangan zaman. Tetapi, bukan berarti mengkritik pemerintah  adalah  hal yang diharamkan, malah wajib hukumnya jika kritik yang diberikan bersifat membangun dan menjadi pertimbangan yang baik bagi para pengambil kebijakan.

Mari para pemuda teknik, bangun dan sadarlah!. Masa depan Indonesia berada di tangan kita. Berbenahlah secepat mungkin dan berilah kontribusi terbaik bagi bangsa ini. Sungguh, bangsa ini sedang menunggu kita untuk terlibat secara langsung dalam arus percepatan pembangunan infrastruktur nasional. Negara tidak memandang siapa kita, universitas asal kita bahkan suku, ras dan agama. Yang mereka inginkan adalah kerja nyata dan ide brilian para pemuda untuk ikut berkecimpung langsung dalam tonggak pembangunan bangsa ini.

 

Referensi :