Artikel PPI UTM Berita Penelitian dan Kajian Strategis

Mau Menjadi Mahasiswa yang Seperti Apa?

Oleh : Taufan Surya putra

 

Orang seperti apakah saya?, harus tetap dengan pendirian atau ikut dengan arus pergaulan?, mungkin pertanyaan sederhana untuk diri sendiri tersebut terdengar sepele, namun memiliki sejuta makna yang akan berdampak besar bagi kehidupan kita. Khususnya kita yang bergelar mahasiswa, ya mahasiswa bukan hanya sekedar sebutan yang bisa didapatkan oleh banyak orang namun tidak banyak orang juga yang bersyukur mendapatkan gelar tersebut.

Menurut Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) bahwasannya jumlah mahasiswa Indonesia pada tahun 2018 memiliki peningkatan yang sangat tinggi mencapai 7 juta jiwa. Jumlah Mahasiswa ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 1997. Ya, angka tersebut memang tinggi, namun kita harus melihat kembali bahwasannya menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada Februari 2019, angka pengangguran lulusan universitas mengalami peningkatan 25%.

Sumber: katadata.co.id

Melihat angka tersebut apakah kita harus bersenang hati?, ataukah kita harus merenung apakah ini kesalahan sebuah instansi Pendidikan tinggi?, ataukah kesalahan individu setiap mahasiswa Indonesia. Tentunya sebelum melihat penyebab suatu permasalahan pada skala yang lebih besar , kita harus melihat penyebab suatu permasalahan dari skala yang lebih kecil dahulu. Untuk itu kita sebagai mahasiswa harus mengetahui apa yang ada dalam diri kita sendiri.

 

 

Siapakah dirimu?

”Knowing yourself is the beginning of all wisdom” , kata tersebut didapatkan dari seorang filsuf Yunani terkenal bernama Aristoteles. Kata-kata tersebut terlihat biasa saja, namun memiliki sejuta makna yang terkandung di dalamnya. Dari kata-kata tersebut kita harus mengatahui, potensi apa yang ada di dalam diri kita. Apakah menjadi mahasiswa merupakan pilihan kita?, ataukah pilihan orang-orang terdekat kita?. Fakta menunjukan dari hasil penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) pada tahun 2017 bahwasannya, sebanyak 87% mahasiswa di Indonesia mengaku jurusan yang diambil bukanlah pilihannya. Angka tersebut sangatlah besar, dan kita dapat melihat bahwasannya masih banyak teman-teman mahasiswa kita di luar sana mengalami kesalahan terhadap pengambilan jurusan. Tentunya ini harus dijadikan sebuah pembelajaran dan juga kesadaran, bahwasannya kita harus mengetahui minat dan potensi kita itu di bidang apa?. Tidak mungkin seorang yang memiliki bakat menggambar dan juga melukis, dipaksakan untuk mengambil bidang politik, atau seorang yang sangat tidak menyukai matematika dipaksakan untuk mengambil bidang Tehnik, jangan sampai pilihan orang-orang terdekat kita itu menjadi beban di dalam diri kita, karena yang menjalankan kehidupan sebagai seorang mahasiswa itu adalah diri kita sendiri, bukan orang-orang terdekat kita yang menyarankan atau menyuruh kita untuk mengambil bidang tersebut. Buktikan kepada mereka, ketika kita sudah mengambil bidang yang sesuai dengan potensi dan minat di dalam diri kita masing-masing, bahwasannya kita bisa sukses ketika kita lulus nanti. Namun, untuk teman-teman diluar sana yang merasa mengambil jurusan/bidang yang tidak sesuai dengan minat dan potensi di dalam diri, selagi masih ada waktu cobalah untuk mengulang dan mengambil Kembali bidang yang sesuai dengan potensi di dalam diri teman-teman. Memang itu merupakan sebuah hal yang tidak mudah, namun jika terus dipaksakan maka dampaknya akan menjadi sebuah penyesalan seumur hidup.

Soft skill is also everything

Setelah kita mengetahui potensi yang ada di dalam diri kita, dan kita berada di dalam bidang yang kita inginkan, kita harus tahu bahwasannya sebagai mahasiswa bukan hanya sekedar belajar, belajar dan belajar. Namun kita juga harus mengasah bakat yang ada di dalam diri kita, dan tentunya bakat yang berada di dalam diri masing-masing orang itu berbeda. Untuk apa kita mengasah bakat yang ada di dalam diri kita?, bukan kah IPK adalah segalanya?, bukankah itu hanya membuang-buang waktu saja. Pertanyaan tersebut pasti banyak di lontarkan oleh teman-teman semua. Namun sekarang yang saya tanyakan adalah apabila teman-teman terlalu fokus dengan kegiatan belajar yang berada di dalam kampus, ketika teman- teman lulus nanti, apa yang membedakan teman-teman dengan lulusan sarjana di luar sana?, apakah teman-teman tidak memiliki nilai lebih yang bisa ditunjukan ke dunia luar?.

 

Mari kita ambil contoh dari seorang yang sangat hebat, berjasa bagi Indonesia dan juga dunia. Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih populer dikenal dengan B. J. Habibie adalah Presiden Republik Indonesia yang ke tiga, beliau juga merupakan seorang insinyur pada bidang desain dan konstruksi pesawat terbang. Bukanhanya piawai dalam menyelsaikan persoalan di bidang pesawat terbang, ketika dulu menjadi mahasiswa  beliau juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Achen pada tahun 1957. Begitu banyak prestasi yang didapatkan oleh Bapak Teknologi Indonesia ini,mulai dari mendapatkan gelar doctor insinyur dengan predikat summa cumlaude, penemu Crack Progression Theory, dan beliau juga merupakan satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan sebagai Vice president dan juga Direktur Teknologi MBB periode 1973-1978. Bukan hanya berprestasi di bidang Ilmu pengetahuan saja, namun beliau juga sangat berjasa bagi bangsa Indonesia terutama di bidang ekonomi. Ini terbukti ketika beliau menduduki jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia ketiga, beliau berhasil menyelamatkan bangsa Indonesia dari krisis moneter dan juga beliau dapat memangkas nilai rupiah pada saat itu dari 15.000 per USD menjadi 6.500 per USD. Jadi apa yang bisa kita dapat simpulakan dari kisah singkat beliau ini?, kita ketika menjadi mahasiswa harus tau bahwa bukan hanya belajar saja yang menjadi tugas kita, namun kita harus juga melatih soft skill kita. Bisa dilihat keaktifan beliau ketika menjadi mahasiswa, beliau aktif di dalam organisasi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) hingga menjabat sebagai ketua di dalam organisasi tersebut. Itu berarti beliau juga bukan hanya belajar ketika mahasiswa, beliau juga melatih keahlian beliau di bidang organisasi, mengasah kemampuan leadership dan juga public speaking. Ini yang harus menjadi inspirasi untuk kita sebagai mahasiswa, karena pada akhirnya ketika kita lulus nanti bukanhanya IPK yang akan menentukan masa depan kita, tapi juga nilai-nilai lebih yang berada di dalam diri kita.

Dan satu hal yang kita harus ketahui bahwasannya soft skill itu bukan hanya sekedar kemepuan berorganisasi, public speaking, dan leadership saja. Namun masih banyak soft skill yang bisa kita pelajari dan juga kita asah. Contohnya adalah keterampilan dalam menulis, keterampilan dalam menyelsaikan masalah, kemampuan coaching atau mentoring, financial management, dan masih banyak lagi. Kita tahu bahwa soft skill di masing-masing orang itu berbeda. Jadi kita harus mengenali potensi apa yang ada dalam diri kita. Namun tidak menutup kemungkinan jika kita mempelajari soft skill baru yang berada diluar kemampuan kita. Karena itu semua pasti akan bisa kita kuasai dengan kemauan dan ketekuna yang ada di dalam diri kita.

Mental health, is that something important for us?

Setelah kita mengetahui jati diri kita, kita juga sudah mengatahui hal apa saja yang harus kita lakukan sebelum kita lulus nanti, satu hal yang tidak bisa kita pungkiri adalah Kesehatan mental diri kita. Ya, kesehatan adalah salah satu hal yang utama di dalam diri kita. Namun, sehat bukan berarti hanya menjaga kesehatan fisik kita saja , namun sehat juga mencakup di dalam kesehatan psikis kita. Mengapa menjaga kesehatan, terutama kesehatan mental merupakan hal yang teramat penting bagi seorang mahasiswa?, dikutip dari kompas.com bahwasannya menurut hasil studi dan analisa pada tahun 2019 menemukan tingkat pemikiran bunuh diri , depresi berat dan cedera diri di antara siswa  berlipat dua antara 2007 dan 2018. Namun bukan hanya di Indonesia, permasalahan ini juga terjadi di negara-negara besar seperti Inggris dan juga Amerika Serikat.

Jadi apa yang harus kita lakukan?, tentunya kita harus memahami apa permasalahan yang terjadi di dalam diri kita. Jangan menganggap bahwa stress dan frustasi itu hal yang wajar saja. Ketika kita mengalami sebuah tekanan dan juga permasalah terutama tentang kehidupan kampus atau pun permasalahan pribadi, kita harus membiasakan untuk terbuka dengan orang terdekat kita untuk membicarakan permasalahan tersebut. Namun jika memang orang terdekat kita masih belum bisa untuk membantu kita dalam menyelsaikan permasalahan mental yang kita alami, kita juga bisa berkonsultasi dengan psikolog.

Memang faktanya masih banyak orang yang masih enggan untuk berkonsultasi kepada psikolog, mengapa demikian? Hal ini dikarenakan dengan beberapa konsiderasi yanag berada di dalam pikiran orang tersebut, seperti mahalnya biaya, sifat tertutup yang dimiliki orang tersebut, dan juga terlalu memakan waktu. Namun kita harus tahu bahwa sangat penting bagi kita untuk mementingkan masalah yang ada di dalam diri kita daripada memikirkan tiga konsiderasi yang baru saja disebutkan. Mengingat untuk sekarang ini hampir di setiap universitas sudah memiliki psikolognya masing-masing yang sangat tersedia gratis atau dengan biaya yang terjangkau bagi mahasiswa yang memerlukan. Untuk masalah waktu dan juga sifat yang tertutup, tentunya setiap individu itu lah yang harusnya bisa meluangkan waktu dan juga harus mulai bisa membuka diri kepada psikolog dan juga orang lain, mengingat masalah kesehatan mental itu adalah hal yang sangat penting bukan?. Untuk apa seorang mahasiswa yang memiliki pikiran yang cemerlang, dan juga berprestasi di segala bidang namun kesehatannya terganggu. Pada akhirnya mahasiswa tersebut tidak dapat menikmati pembelajaran yang ada di dalam kampus, tidak dapat dengan lancar melakukan hobi yang dia suka, dan tidak dapat berinteraksi dengan baik kepada orang lain. Maka dari itu untuk menjadi lulusan yang unggul, dan memiliki kinerja di bidang kita masing, sudah sepatutnya kita menjaga kesehatan terutama kesehatan mental yang ada di dalam diri kita.

Namun sebelum itu semua terjadi, apa yang bisa kita lakukan terhadap diri kita dan juga orang terdekat kita untuk mencegah ganguan kesehatan mental?. Tentunya untuk diri kita sendiri, kita harus mulai membiasakan diri untuk mendekatkan diri kita kepada tuhan kita, lalu kita harus mulai bisa membiasakan menikmati segala aktivitas yang kita lakukan. Jangan pernah menganggap belajar dan juga mengerjakan tugas kampus merupakan beban, namun anggaplah itu sebuah proses alami yang harus kita lewati jika kita ingin menjadi sukses di masa depan. Ambilah waktu luang kita sendiri, untuk melakukan hal-hal yang positif seperti olahraga, melukis , berorganisasi, dan menghabiskan waktu luang bersama orang-orang terdekat kita. Dan untuk orang-orang terdekat kita, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah itu semua?, tentunya kita harus bisa belajar dan bersedia untuk menjadi pendengar dan juga pemberi nasihat yang baik. Jangan menganggap bahwa permasalahan yang dimiliki orang terdekat kita itu hanyalah permasalahan pribadi mereka, cobalah untuk belajar menjadi orang yang peduli atau berempati terhadap sesama, minimal terhadap orang-orang terdekat kita. Dan apabila itu tidak bisa di cegah, kita juga harus mau untuk membujuk dan menyarankan orang terdekat kita untuk pergi berkonsultasi ke psikolog. Yakinkanlah kepada orang tersebut bahwa pergi menuju psikolog merupakan jalan terbaik untuk menyelsaikan permasalahan mental yang dia alami.

Jadi apa pilihanmu?

Ini Kembali lagi ke diri kita masing-masing, apakah kita masih ingin tetap untuk menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja yang tidak tahu potensi apa yang ada di dalam diri kita?, apakah kita masih ingin tetap untuk menjadi mahasiswa yang hanya mempelajari pelajaran yang diberikan dosen tanpa mengasah soft skill yang berada di dalam diri kita?. Apakah kita masih ingin tetap untuk menjadi mahasiswa yang tidak mempedulikan kondisi kesehatan kita dan mempedulikan orang-orang yang di sekitar kita?. Itu semua hanya diri kita masing-masing lah yang bisa menjawabnya, namun semoga setelah teman-teman membaca artikel ini, teman-teman termotivasi untuk menjadi mahasiswa yang lebih baik lagi.

 

“The decisions you make are a choice of values that reflect your life in every way.”

­Alice Waters

 

Source :