Artikel PPI UTM Berita Penelitian dan Kajian Strategis

Menyikapi Situasi Ekonomi Tanah Air Dengan Lebih Bijak

Oleh: Mohammad Raziq Fakhrullah

 

Indonesia adalah Negara berkembang dengan jumlah  PDB  terbesar di asia tenggara dan Negara dengan urutan ke 16 dalam jumlah PDB terbesar di dunia. Hal ini membuat Indonesia masuk dalam kelompok G-20 atau kelompok Negara-negara dengan  kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Namun jika kita melihat situasi ekonomi dalam negeri, persentase penduduk miskin di Indonesia masih berjumlah 26,4 Juta jiwa. Hal ini menjadi tanda tanya setiap orang ketika  melihat optimisme pemerintah dalam menonjolkan keberhasilan ekonomi di tanah air. Mengapa masih banyak orang miskin di Indonesia sementara kita  di daulat sebegai Negara dengan kekuatan ekonomi yang besar ?, mari coba kita bahas secara seksama.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tentu kita  harus memahami  apa itu PDB, Menurut para ahli, PDB dapat diartikan bahwa jumlah produksi baik barang atau jasa yang telah dihasilkan oleh unit produksi di suatu daerah pada saat tertentu. Maka, PDB bisa dijadikan alat ukur dari pertumbuhan ekonomi suatu negara. Maka, PDB bisa dikatakan sebagai indikator ekonomi suatu negara untuk mengukur jumlah total nilai produksi dimana jumlah total ini dihasilkan oleh semua orang atau perusahaan baik yang dimiliki oleh lokal atau asing di suatu negara. Melihat keterangan ini, menjadi wajar bahwa Indonesia memiliki jumlah PDB yang besar menimbang Indonesia  sebagai Negara terluas di asia tenggara dengan  jumlah penduduk sebanyak 270 juta jiwa.

Jika PDB tidak mencerminkan kesejahteraan penduduk lalu apa alat ukur yang  lebih tepat ? , salah satu ukuran itu ialah pendapatan nasional atau pendapatan nasional bruto (gross national income) dibagi dengan jumlah penduduk. Ternyata kita belum boleh berpuas diri atau membanggakan diri. Pendapatan nasional bruto perkapita Indonesia masih tercecer di urutan ke-120, baru mencapai sebesar US$3,840 pada tahun 2018. Itu artinya perekonomian indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara lain.

Maka ini harus menjadi dorongan kepada kita semua , untuk mencari tahu apa saja kerikil-kerikil yang menghambat perekonomi indonesia saat  ini.  Salah satu dari kerikil-kerikil itu  ialah  masih  banyaknya uang di indonesia yang  tidak mengalir di sistem perbankan, contohnya persentase orang dewasa yang menabung di bank hanya 60%,  sedangkan Negara-negara seperti singapura dan norwegia sudah mencapai 100%. Hal ini tentu berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian melalui kredit usaha rakyat. Dan jumlah bank di indonesia begitu  banyak berjumlah 115 bank. Hal ini menyebabkan kemampuan suatu bank untuk meminjamkan dana pun tidak begitu besar dikarenakan kekuatan dana  yang terpecah. Jika pemerintah mampu menyatukan beberapa manajemen perbankan tentu hal ini sangat berdampak positif bagi perekonomian.

Di sisi lain kita perlu meningkatkan skill masyarakat dalam mendiriikan usaha, karena banyak sekali daerah-daerah dengan potensi ekonomi yang baik namun tidak ada yang mengolahnya dikarenakan skill masyarakat yang kurang. Dan tenaga pendidik pun perlu mengasah skill para generasi penerus mulai di lingkungan sekolah, dan tidak hanya skill melainkan juga mental seorang entrepreneur yang memiliki prinsip dalam mendirikan suatu usaha. Dan kita juga menerapkan kebiasaan menggunakan produk lokal ketimbang produk asing yang telah banyak masuk ke dalam negeri pada era globalisasi ini. Sehingga setiap pendiri usaha lokal akan mulai optimis dikarenakan para masyarakat sudah mulai percaya pada produk lokal. Apa bila hal ini berjalan dengan baik maka produk kita tidak hanya diterima oleh masyarakat lokal, melainkan pasar internasional pun bisa rebut secar perlahan.

 

Sumber :