Artikel PPI UTM

Merantau: Ilmu Kehidupan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi merantau ialah: berlayar (mencari penghidupan) di sepanjang rantau (dari satu sungai ke sungai lain dsb); pergi ke pantai (pesisir); pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu, dsb). Adapun secara terminologi, merantau berasal dari bahasa Minangkabau, dengan kata dasar rantau yang memiliki arti wilayah (wilayah inti dari Minangkabau itu sendiri).

Pentingkah kita mengetahui definisi merantau?

Penulis teringat dengan kutipan sebuah syair yang mengatakan, “Merantau lah maka akan kau temukan jalan pulang, merantau lah maka kau akan tahu siapa yang akan kau rindukan”.

Sebenarnya, untuk apa kita merantau?

Terkadang, ada sedikit perasaan takut saat kita hidup jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga dan teman-teman dekat. Seorang guru sekolah menengah berkata, “Jangan bangga, kalau hanya menang kandang” yang tentunya artinya, pengetahuan kita hanya disitu-situ saja. Dunia ini tak hanya bulat, tapi ianya luas untuk kita jelajahi.

Contohnya, kita coba pergi ke India. Sejauh ini, kita hanya tahu India dari buku, ensiklopedia, televisi ataupun sekedar dari Google. Tapi, tak ingin kah kita berpetualang bersama realita kehidupan mereka yang mungkin jauh berbeda dengan kehidupan kampung halaman kita dan merasakan sensasi culture-shock disana?. Ataupun, kita coba pergi ke Eropa, yang mungkin keadaannya berbeda seratus-delapan-puluh derajat dengan kampung halaman kita. Atau mungkin kita tertarik untuk berpetualang ke negara-negara tetangga kita seperti, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Vietnam. Mungkin juga tidak harus dengan pergi ke negara lain. Kita bisa juga pergi ke tempat-tempat di berbagai pulau yang ada di Indonesia, pulau Jawa misalnya, menyelami kehidupan ibukota Jakarta.

Ada pepatah yang mengatakan, “Lain padang, lain belalang. Lain sungai, lain pula ikannya”. Dari bahasa yang digunakan saja sudah berbeda, meski perbedaan itu hanya ibarat kulit bawang, yang didalamnya masih berlapis-lapis, masih banyak lagi perbedaan-perbedaan lainnya.

Apa yang penulis coba sampaikan disini tak lain tak bukan ialah untuk sedikit memberi daya tarik dari merantau kepada pembaca. Orang juga ada yang bilang, “Merantau itu tidak enak kalau sebentar-sebentar ingin pulang”, memang mungkin begitulah adanya.

Sebenarnya apa yang kita dapat dari merantau?

Tak hanya sekadar pengharapan kehidupan, tapi juga ilmu. Bukan hanya ilmu mata pelajaran sekolah seperti sains, matematika, bahasa dan yang lainnya, tapi yang terpenting adalah ilmu kehidupan.

Mungkin kita mengenal Bung Hatta, B.J Habibie, Ahmad Fuadi, Andrea Hirata, Chairil Tanjung. Tokoh-tokoh diatas adalah segelintir orang yang bisa dibilang termasuk ke dalam kategori orang merantau yang sukses. Jadi, apakah merantau itu untuk mencari kesuksesan?

Kita baru akan menemukan jawabannya setelah kita merasakan sendiri bagaimana merantau itu.

Penulis hanya ingin menggaris bawahi juga bahwasanya merantau itu adalah pergi dan kembali, membawa bersama ilmu kehidupan. Merantau lah, rasakan sensasi adaptasi dan ekspektasi di negeri orang yang mungkin tak kau temukan di negeri sendiri.

 

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika didalam hutan

 – Imam Syafi’i –


Penulis:

Rakhmania, mahasiswa S1 jurusan Industrial Biology, Faculty of Bioscience and Medical Engineering, UTM