Artikel PPI UTM Berita Penelitian dan Kajian Strategis

Penerbangan Gila Indonesia – Venezula

Oleh : Zhilal Al Kiram

 

Siapa yang tidak kenal dengan pesawat CN-235 buatan PT.Dirgantara indonesia, sudah banyak negara yang membeli dan memakai pesawaat hasil kerja sama indonesia dengan spanyol ini terutama untuk kepentingan militer. Sebuat saja malaysia,thailan,korea selatan,uni emirate arab brunei, vietnam, pakistan ,pantaigadeng  sinegal, venezuela dan dll.

Pesawat ini juga menjadi salah satu saksi mata masa-masa keemasan dan masa suram PT.Dirgantara indonesaia  yang sebelumnya dikenal dengan nama IPTN, tidak hanya untuk kepentingan militer berapa armada masakapai sipil jaga menggunakan pesawat ini sebagai armada angkutannya, salah satunya adalah airvenezuela sebuah maskapai penerbangan asal Amerika Selatan yang menyewa satu unit pesawat CN-235 pada pertengan tahun 1998 lalu , beberapa tahun dioperasaikan di Venezuela pesawat CN-235 ini mengalami nasib tragis maskapai air venezuela bangkrut dan membiarkan pesawat ini parkir di bandara ibu kota venezuela (caracas) dengan kondisi yang mengenasakan sejak november 2001. Mesin sudah dilepaskan dari badan pesawat , cat pesawat sudah kusam ,beberapa titik terdapat karat dan hampir semua kursi mengalami kerusakan tampaknya air venezuela tak lagi memperdulikan pesawat ini namun tidak ditemukan keretakan atau crack pada badan peaswat sehingga semuanya masih bisa di perbaiki.

Karena pesawat ini hanya disewakan maka secara hukum pesawat ini milik PT.Dirgantara Indonesia, PT.Dirganatara indonesia yang kala itu mulai bangkit kembali ingin mengambil kembali pesawat itu dan membawa pulang ke Indonesia tentu saja untuk disewakan kepada pihak lainnya. Untuk misi penjemputan pesawat ini pada bulan febuari 2002 diutus beberapa tenaga ahli diantaranya bapak Jokowidadio mereka diharuskan untuk memperbaiki pesawat , mengurus administrasi dan membawa pulang pesawat in ke indonesia sekilas misi ini tampaknya mudah namun faktanya berkata lain sederet masalah teknis dan administrasi menghambat misi ini.

Misi pertama adalah memperbaiki pesawat ini agar bisa di terbangkan kembali dan dalam bebrapa hari perbaikan pesawat CN-235 sudah selesai semua tampaknya berjalan dengan mulus dan sesuia dengan renacana pada taggal 8 April 2002 izin terbang sudah keluarakan oleh pihak terkait di Venezuela dan pada hari itu juga pesawat ini mengalami uji terbang untuk memastikan semua sistemnya bekerja dengan baik dan pesawat ini lansung memulai perjalana pulang ke indonesia. Pesawat ini diterbangkan dari Caracas menuju kota kecil Maturin yang juga masih  wilayah Venzuela disana tim penjemput akan bermalam dan pada esok paginya melanjukan perjalana menuju Vortaleza (Brazil) , pada pagi hari tim sudah bersiap terbang namun co-pilot berkebangsaan Venezuela melakukan kesalahan pada saat strat mesin sehingga bateray pesawat yang dari awal sudah lemah menjadi anjlok sehingga untuk menghidupkan mesin pesawat harus dibantu dengan alat ground power yaitu semacam pembangkit listrik  untuk menghidupkan mesin peasawat namun permasalahannya adalah di kota kecil seperti Maturin peralatan tersebut sangat sulit untuk ditemukan namun tenaga ahli PT.Dirgantara mengakalinya dengan mencharger bateray pesawat di salah satu toko onderdir di toko tersebut. Pada saat sore menjelang malam semua permasalah bisa diatasi pesawat siap untuk diterbangkan ke kota Vortaleza (Brazil) namun captain-pilot keberatan menerbangkan pesawat malam itu juga mengingat mereka akan melewati hutan belantara Amazone yang sangat luas sehigga sangat berbahaya untuk penerbangan malam, penerbangan ini akhirnya ditunda keesokan harinya. Pagi hari tanggal 10 April 2002 para kru  sudah bersiap untuk meninggalkan kota itu namun masalah kembali terjadi kali ini pihak berwenang Venezuela melarang mereka meninggalkan kota itu dikarnakan pesawat itu disangka belom dilengkapi dengan surat- surat anti perdagangan narkoba lalu surat-surat tersebut lansung diurus oleh agen lokal PT.Dirgantara dan bisa diselesaikan pada hari itu juga tetapi penerbangan kembali harus ditunda sehari lagi.

 

Keesokan harinya pada tanggal 11 April 2002 pesawat kembali di persiapkan untuk terbang namun lagi-lagi masalah kembali muncul kali ini pihak otoritas venezuela menyebutkan pesawat ini masih menunggak pajak sekitar $20.000 USD dan harus di lunaskan jika ingin keluar dari venezuela, permasalah non-teknis seperti ini tentunya membuat para ahli dari PT.Dirgantara menjadi pusing, permasalahan pajak ini baru bisa tuntas sebulan kemudian yang artinya pesawat yang sedianya sudah tinggal terbang harus menunda penerbangannya selama satu bulan sungguh kondisi yang sangat membuat kesal seluruh kru pesawat CN-235 ini.

Pada hari senin 6 Mei 2002 permasalahan pajak selesai dan pesawat siap untuk di terbang kembali  namun masalah dan cobaan ternyata belum juga usai ketika mesin pesawat dinyalakan bateray peaswat kembali bermasalah karena pesawat sudah sebulan tidak diopersikan selama mengurus permasalah pajak, para tim ahli dari PT.Dirgantara Indonesia kembali harus memutar otak untuk mengatasinya apalagi peralatan charger bateray yang sebelom mereka pakai sudah raip entah kemana tanpa bateray pesawat tidak akan menyala dan tidak akan bisa terbang. Tim ahli mencari solusi alternatif dengan cara membuat bateray darurat dari bateray aki mobil dan aki traktor yang meraka rakit sedemikian rupa yang mereka peroleh dari sejumlah pasar dengan bantuan petugas bandara di kota Maturin Venezuela. Ternyata petugas  bandara sudah mulai menaruh simpati melihat banyaknya permasalah dan perjuangan berat mereka, tidak ada yang tahu apakah bateray darurat bisa berfungsi atau tidak untuk menghidupkan mesin pesawat tetapi dikarenakan mereka tidak punya solusi yang lebih baik hal tersebut pun mereka harus coba dan hasilnya sungguh luarbiasa mesin pesawat berhasil dinyalakan para kru pesawat CN-235 sangat bergembira demikian juga dengan petugas bandara yang sudah bersimpati dengan mereka dan akhirnya pesawat pesawat CN-235 terbang meninggalkan kota Maturin Venezuela dengan diiringi lambaian tangan dan salam perpisahan dari petugas bandara.

Tujuan mereka selanjutnya adalah kota Fortaleza di Brazil mereka terbang di atas hutan belantara Amazone yang sangat luas dan sejauh mata memandang yang terlihat hanya hutan belantara, setalah 9 jam penerbangan akhirnya mereka tiba di tujuan dengan selamat. Di Fortaleza ,Brazil pesawat ini terbang menuju kota Cape Varde di sebuah negara kepulaan di samudera Atlantik tepatnya dilepas pantai barat Afrika. Jika sebelumnya mereka nembus hutan Amazon yang maha luas selama 9 jam non-stop , penerbangan selanjutnya tidak kalah menebarkan mereka harus terbang melintasi samudera Atlantik selama  hampir 9 jam ditambah lagi jalur Atlantik ini cukup berbahaya karena jika mengalami masalah teknis di atasnya maka tidak ada rute pendaratan darurat karena sejauh mata memandang hanya terlihat samudera luas tapi akhirnya dapat mendarat mulus di Cape Varde.

Perjalanan selanjutnya akan menuju kepulaan Canary wilayah kedaulatan Spanyol yang berada di samdera Atlantik  di lepas pantai barat Maroco , perjalanan ke pulau Canary pada tanggal 11 Mei 2002 juga berjalan dengan mulus namun begitu mendarat mereka mendapati masalah yang tidak terduga mereka ditahan oleh pihak imigrasi setempat karena tidak memiliki dokumen visa menurut kru dan agen lokal yang mengurus dokumen untuk penerbangan veri seperti itu harusnya tidak membutuhkan visa namun pihak imigrasi setempat tidak perduli dan menahan kru pesawat CN-235 di dalam penjara milik pihak imigrasi untungnya mereka tidak harus berlama-lama menjalani hukuman itu dan bisa melanjut perjalan. Tujuan mereka selanjutnya adalah kota Palma de Mallorca yang juga merupakan kedaulatan Spanyol, lagi-lagi mereka mendapati masalah yang sama kembali ditahan oleh pihak otoritas imigrasi setempat karena masalah dokumen visa mereka harus kembali menjalani hukuman kedua kalinya diwilayah kedaulatan Spanyol. Lepas dari masalah imigrasi Spanyol perjalanan, kembali di lanjutakan ke kota Cairo, Mesir yang berjalan mulus tanpa hambatan kemudian perjalanan dilanjutkan ke kota Abu Dhabi , Uni Emirat Arab yang juga berjalan mulus meskipun sempat melewati badai pasir, dari Abu Dhabi perjalanan dilanjutkan menuju Maldevis sebuah negara kepulaan di selatan India yang sering dikenal dengan nama Maladewa , perjalanan ini juga di lalui dengan mulus tanpa hambatan yang berarti.

Wilayah Maldevis adalah persinggahan terakhir sebelum masuk ke wilayah udara Indonesia karena dari Maldevis perjalanan di lanjutakan menuju kota Medan Sumatera Utara para kru dan tenaga ahli yang terlibat begitu lega ketika pesawat memasuki wilayah udara Indonesia dan mendarat mulus di kota Medan. Keesokan harinya tepat pada tanggal 18 Mei 2002 pesawat kembali diterbangkan dari medan menuju Bandung pesawat kebangaan indonesia ini akhirnya berhasil mendarat di bandara  Husein Sastranegara. Akhirnya perjalanan panjang mengelilingi separuh bumi selama 40 hari yang penuh drama dan perjuangan berhasil di tuntaskan perjalanan panjang dan menegankan ini juga  menjadi bukti bahwa pesawat CN-235 adalah pesawat yang tangguh dikarenakan pesawat yang awal terbengkalai dan mengenaskan di Venezuela berhasil melewati hutan belantara Amazone , samudera Atlantik dan tiba di Indonesia  dengan selamat. Setibanya di Indonesia pesawat ini di kabarkan dipakai kembali oleh Merpati Airline dan belakangan dari data base registrasi pesawat kabarnya pesawat CN-235 bekas AirVenezuela ini dijual kepada pemerintah Sinegal pada tahun 2011 yang lalu tentunya setelah di upgrade menjadi pesawat angkut militer untuk kepetingan angkut VIP(very important person) di Sinegal dan hingga kini pesawat tersebut masih menjadi andalan militer Sinegal.