Artikel PPI UTM Berita Penelitian dan Kajian Strategis

Perkembangan Industri Perminyakan di Indonesia

Oleh: Caryn Emrisa Gonie

Minyak telah menjadi bahan bakar utama sejak pertama kali ditemukannya hingga saat ini. Di Indonesia sendiri minyak pertama kali ditemukan di berbagai pulau seperti Jawa, Kalimantan, dan Sumatera oleh salah satu institusi milik belanda yang bernama Corps of the Mining Engineers pada tahun 1850-1860an. Pada tahun 1871 dilakukan pengeboran minyak pertama di Indonesia oleh seorang pedagang Belanda yang bernama Jan Reerink bertempat di Jawa Barat tepatnya daerah lereng Gunung Ciremai. Pengeboran itu lalu menghasilan 6000 liter produksi minyak bumi pertama di Indonesia. Produksi minyak bumi di Indonesia juga tergolong pionir di dunia dikarenakan hanya berselang 12 tahun setelah pengeboran minyak pertama di dunia.

Sebelum lahirnya Pertamina, industri perminyakan di Indonesia dikuasai oleh Belanda dan Inggris dengan mendirikan perusahaan minyak terbesar saat itu, yaitu  Royal Dutch Shell. Belanda sangat mendominasi jumlah aset minyak sampai akhirnya seiring nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, Indonesia membentuk perusahaan minyak negara dibawah pimpinan dr. Ibnu Sutowo yang diberi nama PERMINA (perusahaan tambang minyak negara). Selanjutnya, pada tahun 1961 setelah sistem konsesi perusahaan asing dihapuskan dan diganti dengan sistem kontrak karya dibentuklah PN PERTAMIN (Perusahaan Tambang Minyak Negara). Kedua perusahaan ini yang kemudian dimerger dan membentuk perusahaan minyak milik negara yang kita kenal dengan nama PERTAMINA (Perusahaan Tambang Minyak dan Gas Bumi Nasional).

Sejak saat itu industri minyak menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Eksplorasi minyak oleh perusahaan negeri dan asing dilakukan dengan skala besar di berbagai daerah mengingat Indonesia kaya akan kekayaan alam. Bahkan pada masa Orde Baru, Indonesia dikenal sebagai produsen dan eksportir utama minyak di dunia dan pernah mencapai angka produksi 1,65 juta barrel per hari pada tahun 1977. Seperti yang kita ketahui Indonesia juga ikut tergabung dengan OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries). Mengingat minyak bumi adalah energi yang tidak dapat diperbaharui dan secara alami akan semakin berkurang diiringi dengan meningkatnya demand dari konsumen, masa jaya industri minyak di Indonesia harus terancam akibat penurunan produksi minyak. Saat ini, sebanyak 72% produksi minyak nasional berasal dari lapangan-lapangan tua yang telah berproduksi lebih dari 30 tahun. Ditambah belum ada lagi penemuan cadangan minyak besar di Indonesia yang mengakibatkan menipisnya kurva cadangan dari tahun ke tahun.

Namun, tantangan yang dihadapi industri minyak Indonesia tentu saja dapat ditanggapi dengan baik oleh sektornya. Data terbaru menunjukan Indonesia sekarang berada di posisi ke-22 dunia dengan angka produksi 911.000 barrel per hari. Indikator baik itu juga terlihat dari harga minyak mentah Indonesia pada Maret 2019 yang mencapai USD63,60 per barrel, meski tak sebagus rata-rata pada 2018 yang pernah mencapai harga tertinggi pada bulan Mei sebesar USD72,46 per barrel. Sebelumnya, harga dengan kisaran sebesar itu pernah dirasakan pada November 2014 dengan harga mencapai USD70 per barrel. hal ini membuka harapan dan menjadi sinyal positif untuk industri minyak Indonesia yang semakin menjajikan. Pemerintah juga bekerja keras untuk terus mempertahankan dan meningkatkan posisi Indonesia dalam sektor perminyakan dengan melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan mengolah kegiatan investasi yang kondusif bagi industri minyak dengan cara memberikan akses data minyak secara gratis bagi para pengusaha dan investor. Pemerintah juga mendukung penerapan skema gross split untuk menggantikan skema cost recovery karena dinilai lebih menguntungkan bagi pemasukan negara. Melalui skema gross split, Negara akan mendapatkan bagi hasil migas dan pajak dari kegiatan eksplorasi dan eksploitasi melalui perhitungan dimuka sehingga penerimaan Negara menjadi lebih pasti.

Dengan itu, dapat disimpulkan bahwa industri minyak Indonesia semakin berkembang dan dapat bangkit dari keterpurukan. Namun, tidak dapat dipungkiri juga resiko tantangan dalam sektor ini sangatlah besar, sehingga mengharuskan pemerintah untuk bersikap visioner dan terus mencari jalan keluar dengan masalah yang akan dihadapi kedepannya.

Source: